Jangan Berputus Asa, Mari Jemput Rahmat Allah

Jangan Berputus Asa, Mari Jemput Rahmat Allah

Arrabbani.com// 24 juli 2019

Jangan Berputus Asa, Mari Jemput Rahmat Allah

يبكي يدخل الله الجنة وهو يضحك”

“Barangsiapa yang melakukan dosa dan ia dalam keadaan tertawa (senang) ketika melakukannya maka Allah Subhanahu Wata’ala akan memasukan ia ke dalam Neraka dalam keadaan menangis dan barang siapa yang taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala ia menangis (takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala) maka Allah akan memasukannya ke dalam Surga dalam keadaan tertawa (bahagia),”demikianlah perkataan seorang ulama ahli zuhud.

Sekecil apapun dosa yang kita lakukan, disana ada robul izzati yang selalu memberikan kita ampunan. Kesalahan apapun yang tak luput dari diri kita, disana Allah Subhanahu Wata’ala selalu memberikan maafnya. Dosa sebesar apapun jika seoarang hamba mengakuinya dan bertobat kepada AllahSubhanahu Wata’ala niscaya AllahSubhanahu Wata’ala akan mengampuninya, dan begitupun dosa kecil pasti Allah akan mengampuni dosa tersebut. Perlu di ketahui, banyak manusia lalai akan dosa kecil sehingga ia lupa untuk meninggalkannya dan terus menerus ia melakukannya.

Satu peribahasa mengatakan: “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.” Peribahasa ini yang banyak di lupakan orang, padahal semenjak kita duduk di bangku sekolah dasar sang guru selalu mengajarkan kita akan peribahasa ini, banyak manusia tak sadar bahwa di balik peribahasa tersebut tersimpan edukasi nilai spiritual yang sangat tinggi, nilai keimanan dan ketaqwaan yang begitu eksplisit mengajarkan dan menuntun manusia pada jalan yang lurus.

Bukan hanya peribahasa yang mengigatkan kita akan dosa kecil dan besar, jauh sebelum lahirnya peribahasa tersebut ulama-ulama ahli hikmah pun begitu gencar mengingatkan manusia akan dosa-dosa tersebut. Seperti dikemukan para ahli hikmah  :

قال بعض الحكماء : ” لا صغيرة مع الاصرار و لا كبيرة مع الاستغفار ”

“Tak ada dosa kecil jika tak di lakukan terus menerus dan tak ada dosa besar bersama dengan adanya istigfar (meminta ampunan)”.

Kata “alishror” disini dapat kita interpretasikan sebagai muwazhobah atau adanya indikasi melakukan dosa kecil terus menerus hingga menjadi besar.

Jauh sebelum berkembangnya para sastrawan pelopor peribahasa Indonesia, ayah kitab kuning Indonesia Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar Albantani Aljawi mengemukakan perspektif beliau melalui karyanya yang monumental yaitu kitab Nasaihul Ibad, beliau menyatakan :

فانها بالمواظبة عليها تعظم فتصير كبيرة، و ايضا انها علي عزم استدامتها تصير كبيرة فان نية المرء في المعاصي كانت معصية.

“Sesungguhnya dosa kecil tersebut jika dilakukan secara bersinambung (muwadzobah) akan membesar dan menjadi dosa yang besar, dan jika hanya didasari ambisi semata pun untuk terus menerus melakukan dosa kecil, pada hakekatnya itu sudah menjadi besar sesungguhnya niat seseorang untuk bermaksiat itu sudah dikatagorikan maksiat.”

Adakah Rahmat Allah?

Banyak manusia terdahului oleh rasa pesimisnya di banding rasa optimisnya, perasaan manusia seperti ini merupakan akar masalah munculnya sikap sinis dan skeptis dalam diri manusia, dimana mereka hanya memandang kegagalan di banding kesuksesan, terikat pesimisme daripada optimisme.

Akhirnya akan bermuara pada penyakit skeptisisme manusia yang mempertanyakan adakah rahmat Allah Subhanahu Wata’alabagi saya? AkankahAllah Subhanahu Wata’ala mengampuni dosa saya?

Itulah salah satu penyakit manusia yang selalu bersemayam dalam hatinya, selalu dihantui rasa keragu-raguan, dan selalu dihantui rasa ketidak pastian.

Penyakit ini awal mulanya dipicu dari rasa pesimis akan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan muncul akibat kuman dalam hati manusia yaitu kuman bisikan setan, bisikan ini bermuara dalam hati manusia dimana setan begitu gencar menyebar virus kesesatannya secara inklusif yang berujung pada hegemoni setan dalam diri manusia.

Allah Subhanahu Wata’ala nyatakan dalam firmannya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Dalam tafsir Ibn Katsir, beliau meninterpretasikan ayat tersebut :

هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة ، وإخبار بأن الله يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها ، وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر . ولا يصح حمل هذه [ الآية ] على غير توبة ; لأن الشرك لا يغفر لمن لم يتب منه .

” Ayat yang mulia ini merupakan dakwah (ajakan) kepada semua orang yang bermaksiat baik dari kalangan kafir maupun selainnya untuk bertaubat kepada allah swt, dan merupakan khobar (pemberitaan) sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni seluruh dosa bagi siapa saja yang bertobat dan kembali padanya dari dosa tersebut, sekalipun dosa itu sudah seluas lautan. Dan tidak sah mengartikan ayat ini pada selain taubat; karena syirik (menyekutukan) Allah Subhanahu Wata’alati dak akan diampuni bagi orang yang tidak bertaubat dari kesyirikan tersebut.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallambersabda dalam hadistnya:

الفاجر الراجي لرحمة الله تعالي أقرب الي الله تعالي من العابد المقنط

“Pendosa yang selalu mengaharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala itu lebih dekat kepada Allah dibanding hamba yang putus asa akan rahmat Allah.”

Sejatinya, sebagai seorang muslim haruslah pantang menyerah dari rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Sebesar apapun kesalahan kita, sebesar apapun dosa kita, jangan pernah menyerah untuk bertobat dan mengakui kesalahan kepada Allah. Disana ada dzat yang maha pengampun dan pemaaf. Inilah obat yang Allah  berikan kepada hambanya agar selalu berkeyakinan adanya rahmat Allah.

Sebagai contoh, Allah Subhanahu Wata’alamengampuni para pelaku dosa besar dengan taubatnya ; dalam kasus kriminal pembunuhan terhadap sesama muslim walaupun ia dianggap fasik dan perkaranya merupakan hak veto Allah dikehendakinya untuk diampuni atau di azab serta mendapatakan hukuman qishos, namun jika ia bertaubat dengan sebenar benarnya dan dengan seluruh syarat taubat  Allah Subhanahu Wata’alaakan menerima taubatnya. Perspektif Ini merupakan konsensus mayoritas ulama dari mazhab Syafiiyah, Hanafiyah, Hanabilah dan beberapa perspektif ulama malikiyah serta Zaidiyah.

Landasan hukum mayoritas ulama ini berdasarkan pada firman Allah Subhanahu Wata’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengannya, dan ia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS: an-nisa 116).

Walaupun disana masih terjadi benturan perbedaan perspektif ulama menyikapi pertaubatan seorang pembunuh antara diterima atau tidaknya, namun konsensus mayoritas ulama menyatakan diterimanya pertaubatan seorang pembunuh.

Logikanya, bertaubat dari dosa besar sekaliber pembunuhan saja Allah Subhanahu Wata’ala menerimanya apalagi bertaubat dari dosa kecil pasti Allah akan menerimanya.

Kegagalan  

Penyakit kedua pada diri manusia selain merasa jauh dan putus asa dari rahmat Allah adalah merasa gagal.

Sejatinya, sebagai seorang muslim ketika ia diterpa dosa dan kesalahan janganlah langsung merasa gagal dalam menjalani hidup, namun tetap berkeyakinan adanya rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, Dan terus memberanikan diri melangkah menjalani hidup yang lebih baik.

Rehabilitasi Hati

Patut kita sadari, selaku manusia yang tak luput dari dosa dan merasa dirundung rasa putus asa dan kegagalan akan rahmat Allah Subhanahu Wata’alamengahantarkan manusia pada rasa sinis dan skeptis, berpandangan pesimis dan negatif, tak mampu melangkah menuju jalan yang lebih baik. Namun sebaliknya, jika ia yakin akan rahmat Allah  sebesar apapun dosa yang dilakukannya ketika ia bertobat pasti Allah  akan mengampuninya dan menerima pertaubatannya.

Dibalik pertaubatan seorang hamba ini, ada hikmah yang luar biasa didalamnya yaitu perbaikan dan pemulihan hati (rekonsiliasi hati), kenapa demikian? Karena,  dengan taubatnya seorang hamba dan pengakuannya akan dosa yang ia lakukan berniat untuk tidak melakukan kembali akan memghadirkan ketenangan hati dan mendekatkannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tak sedikit kisah yang kita dengar dari pertaubatan seorang hamba akan dosa-dosanya yang kemudian menjadikan ia sebagai hamba yang mulia, hamba yang begitu dekat dengan Allah. Dalam kitabNasaihul Ibad dikatakan :

من ترك الذنوب رق قلبه

“Barangsiapa yang meninggalkan dosa maka hatinya akan lembut”.

Dengan kita bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa Allah akan memberikan kelembutan hati kepada kita, selalu ingat akan perintah dan larangannya, dan akan menjadikan kita hamba yang begitu dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hambanya yang selalu berkeyakinan penuh akan rahmatnya, selalu diampuni akan setiap keasalahan dan dosa kita , serta dijadikan hambanya yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Wallahu a’lam bishowab. Semoga bermanfaat.*

Penulis adalah mahasiswa Universitas Alahgaaf Yaman, santri Ponpes Daarul Rahman Jakarta

Copas “hidayatulloh.com”

Publiser :#abuarrabbaniyyah

Mengambil Ibroh di setiap ujian

Mengambil Ibroh di Setiap Ujian

arrabbani.com/ 1 juli 2019

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Kita sebagai manusia pasti pernah mengalami suatu kejadian di luar dugaan dan kemampuan akal kita. Akan tetapi hal yang harus kita fahami bahwasannya, di setiap kejadian yang menurut kita adalah hal yang buruk, sebenarnya belum tentu itu buruk menurut Allah SWT, begitu pun sebaliknya, hal yang sebenarnya baik bagi kita belum tentu baik bagi-Nya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang sebenarnya tidak kita ketahui.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah Ayat : 216 yang artinya sebagai berikut:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Perlu kita ketahui, bahwa sesungguhnya di setiap kejadian yang menimpa kita itu merupakan suatu ujian bagi kita, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah. Ujian yang dimaksud disini adalah bagaimana cara Allah menguji seberapa besar keimanan seorang hamba-Nya. Maksudnya adalah, apakah melalui kejadian tersebut imannya kepada Allah akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kesabaran dan rasa syukurnya atas kejadian yang menimpanya atau justru malah dengan adanya kejadian tersebut akan melemahkannya.

Yang terpenting sobat muda, janganlah kita bersu’udzan kepada Allah, karena seyogyanya apa pun yang Allah berikan kepada hambanya melalui suatu kejadian apa pun pasti terdapat hikmah dan ibrah (pelajaran) didalamnya. Jika pun kita merasa suatu kejadian terebut adalah merupakan cobaan atau suatu peringatan, tanamkanlah hal positif dalam diri kita bahwasanya kejadian tersebut merupakan bentuk Cinta Kasih Allah kepada kita.

Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-Quran

Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-Quran

Arrabbani.com // 20 juni 2019

Sungguh di zaman ini manusia benar-benar disibukkan dengan gadget. Apapun keadaanya manusia benar-benar tidak lepas dari gadget dan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan buang-buang waktu. Di jalan lihat gadget, sedang antre lihat gadget, sedang berbicara pun curi-curi pandang lihat gadget. Memang gadget ibarat pedang bermata dua, jika digunakan dengan bijak, gadget sangat bermanfaat, akan tetapi kebanyakan kita lalai dan kurang bijak menggunakan gadget.

Salah satu kelalaian kita adalah gadget memalingkan kita dari Al-Quran. Sungguh sangat tersentuh membaca perkataan Khalid bin Walid yang begitu sedih karena tidak bisa fokus belajar Al-Quran karena sibuk dengan jihad, sedangkan kita sekarang meninggalkan Al-Quran karena gadget.

Perhatikan perkataan Khalid bin Walid berikut:

شغلنا الجهاد عن تعليم القرآن

“Sungguh jihad telah menyibukkan kami dari belajar Al-Quran.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151]

Di riwayat yang lain, jihad telah menyibukkan mereka dari membaca Al-Quran.

لقد منعني كثيراً من القراءة الجهاد في سبيل الله

“Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan (mencegah) kami dari membaca Al-Quran.” [Musnad Abu Ya’la 6/361]

Sungguh benar akan datang zaman di mana manusia benar-benar meninggalkan Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN”. (QS. Al Furqan: 30)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bentuk meninggalkan Al-Quran dalam segala bentuk, mulai dari membaca, mentadabbur, mempelajari tafsirnya dan mengamalkannya. Beliau berkata,

قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه

“Mereka telah berpaling dan meninggalkan Al-Quran, padahal mereka wajib untuk patuh dan menerima terhadap hukum di dalamnya serta berjalan dengan petunjuk Al-Quran.” [Tafsir As-Sa’diy]

Hendaknya seorang muslim berusaha membaca Al-Quran setiap hari. Berusahalah membacanya walaupun hanya beberapa ayat dalam sehari, karena kita terlalu banyak melakukan maksiat setiap hari. Maksiat membuat hati keras dan Al-Quran lah obatnya. Membaca Al-Quran membuat hati menjadi lembuh dan mudah menerimah hidayah serta mudah melakukan ibadah dan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia. Al-Quran adalah obat bagi penyakit hati kita.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan penyakit hati. Beliau berkata,

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ

“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur.”(Tafsir Adhwaul Bayan).

Gunung yang keras saja akan hancur apabila Al-Quran turun padanya, apalagi hati yang keras. Tentu hati yang keras akan menjadi lembut dengan Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 21)

Copas : “Raehanul Bahraen Artikel www.muslim.or.id

Publiser = Ananda Shinta

 

muhasabah diri


Allah maha mendengar allah maha melihat
Allah maha menyaksikan setiap pertemuaan Allah menyaksikan setiap pertemuan kita
Dialah allah, dialah allah yang maha melihat
Tiada yang tersembunyi dimata allah yang maha dekat

Dia tau setiap lirikan mata, dan niat dibalik lirikan
Dia tau apa yang ada dalam benak fikiran kita
Dialah allah yang maha mendengar segala sesuatu

Allah maha tau orang2 yang terluka hatinya
Allah maha tau setiap dusta yang kita ucapkan
Allah maha tau setiap kebusukan hati kita

Riya…, dibalik amal amal kita
Sombong… dan takaburnya diri kita
Allah maha tau setiap kedengkian yang ada dihati ini
Dialah allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan
Allah maha tau setiap maksiat yang terang terangan maupun yang tersembunyi

Saat ini kita dihargai bukan karena kemuliaan yang kita miliki
Kita dihargai karena allah masih menutupi kebusukan kita yang sebenarnya
Andaikata allah berkehendak membeberkan
Maka tiada satupun yang dapat menghalangi

Wahai saudara saudaraku…
Hanya allah lah yang membuat kita masih dihargai orang lain
Amal yang kecil dan sederhana allah tampakkan kepada orang lain
Sehingga orang lain menghargai dan menghormati diri kita

Wahai saudara saudaraku…
Andaikata sisa sisa hidup kita akan berakhir
Maka tiada satupun yang dapat menyelamatkan kita
Selain karunia dan rahmat allah
Mana amal amal yang kita miliki

(Aa Gym)