Kisah Gadis Penghafal Al Quran yang Doanya Selalu Dikabulkan

Kisah Gadis Penghafal Al Quran yang Doanya Selalu Dikabulkan

arrabbani.com// 15 juli 2019

Hafizah Quran berusia 17 tahun bernama Aminah Muhaiminun (She/ Dini Afrianti). Menjadi seorang hafidz atau orang yang menghafal Al Quran tentu merupakan impian banyak umat Islam. Apabila terus dipelihara dan dijaga, Allah menjanjikan pahala yang melimpah. Kesempatan ini berhasil diraih Aminah Muhaiminun. Di usia 17 tahun gadis ini sudah hafal keseluruhan 30 jus Al Quran di luar kepala.

Aminah telah 7 tahun menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di Cikarang Bekasi cabang Yayasan Darul Quran (Daqu) milik ulama sekaligus pengusaha sukses Ustadz Yusuf Mansyur. Pondok pesantren di bawah yayasan tersebut memang fokus melahirkan hafidz-hafidz Al Quranmuda di Indonesia.

Di sanalah Aminah mengawali keyakinan untuk menghafal Al Quran sebagai amalan akhirat bagi dirinya dan kedua orangtuanya. Ada pengalaman mengagumkan saat Aminah mulai bertekad menghafal hingga akhirnya bisa menghafal Al Quran. Aminah menuturkan bahwa setiap dirinya memanjatkan doa kepada sang Ilahi, dirinya merasa setiap doanya selalu dijawab dan diijabah (dikabulkan). “Iya, setelah hafal, setiap doa gampang banget dikabulkan aja gitu,” tutur Aminah kepada Arah.com. Selain itu, Aminah juga mengaku kehidupan dirinya dan keluarganya semakin dilimpahi berkah. Iapun merasa setiap langkah dan urusan dimudahkan oleh Sang Maha Kuasa.

Gadis kelas 2 SMA asal Tasikmalaya ini memberikan tipsnya untuk dapat menghafal Al Quran. Kuncinya, kata dia, saat berniat menghafal Al Quran jangan terbersit pikiran ingin menjadi terkenal. Menurutnya menghafal Al Quran niatnya harus benar-benar lillahi ta’ala atau ikhlas karena Allah. Maka niscaya, Aminah mengaku upaya menghafal Al Quran akan menjadi mudah dan lapang. Meski kini sudah hafal, Aminah mengaku masih beberapa kali lupa. Sehingga ia lebih sering melakukan murojaah atau pengulangan dalam Al Quran dan lebih sering membacanya.

Kisah Aminah semakin inspiratif karena selain berhasil menjadi hafidz di usia muda, dirinya juga berhasil menduduki posisi ranking 3 besar di kelasnya di sekolah. Kini Aminah bertekad untuk membahagiakan orang tuanya dengan menjadi seorang pengusahasukses di masa yang akan datang. Semula Aminah ingin menjadi wanita karier yang bekerja kantoran. Namun sejak melihat Ustad Yusuf Mansur yang suksesnya menjadi pengusaha, ia terinspirasi dan ingin menjalani jejak serupa untuk membanggakan kedua orangtuanya. (Dini Afrianti)

Copas “Vela andapita”

Publiser   :#Abuarrabbaniyah

 

5 Pondok Pesantren Tertua di Indonesia

5 Pondok Pesantren Tertua di Indonesia

Arrabbani.com// 6 juli 2019

Klasifikasi kami kali ini tentang pondok pesantren tentu saja berdasarkan tahun berdirinya.

1. Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur 1718 M.

Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.

Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.

Rata-rata per tahun jumlah santri putra jumlahnya sebanyak 5063 dan putri 5137. Pondok pesantren ini ini juga menyelenggarakan sistem pendidikan madrasdah yakni Tipe A sebanyak : 79 madrasah (di Pasuruan) dan Tipe B sebanyak 34 madrasah (di luar Pasuruan).

2. Jamsaren, Jawa Tengah 1750 M

Pondok Jamsaren merupakan pondok pesantren tertua di Pulau Jawa sebab pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo ini sudah berdiri sekitar tahun 1750. Dalam sejarahnya, pondok ini melewati dua periode, setelah mengalami kevakuman hampir 50 tahun, antara 1830 – 1878.
Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas). Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.

Kini, jumlah santri pondok pesaantren Jamsaren lebih dari 2000 santri yang terdiri dari santri muqim sekitar 160 santri.

3. PPMH (ponpes Miftahul Huda), Gading Malang, Jawa Timur 1768 M

Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. PPMH juga dikenal dengan nama Pondok Gading karena tempatnya berada di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Bahkan nama yang terakhir lebih masyhur dikalangan masyarakat.

KH. Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. Beliau meninggalkan empat orang putra yaitu: KH. Isma’il, KH. Muhyini, KH. Ma’sum dan Nyai Mujannah. Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan.

Kepada KH Moh. Yahya inilah KH. Isma’il menyerahkan pembinaan dan pengembangan Pondok Gading. KH. Ismail kemudian wafat pada usia 75 tahun setelah mengasuh Pondok Gading selama 50 tahun. Sebagai pengasuh generasi ketiga, KH. Moh. Yahya memberi nama pondok pesantren gading dengan nama “Pondok Pesantren Miftahul Huda”. Beliau mengizinkan para santrinya untuk menuntut ilmu di lembaga formal di luar pesantren. Sebuah kebijakan yang cukup berani dan tergolong langka saat itu. Ternyata dengan kebijakan ini, Pondok Gading berkembang semakin pesat.

4. Buntet, Cirebon, Jawa Barat 1785 M

Data tertulis mengungkapkan, pondok pesantren Buntet didirikan oleh Kiyai Muqayim pada tahun 1758. Pada awalnya, mbah Muqayim (sebutan untuk Kiyai Muqayim bagi anak cucunya) membuka pengajian dasar-dasar al-quran, bagi masyarakat Desa Dawuan Sela (1 Km ke sebelah Barat dari Desa Mertapada Kulon (lokasi pondok pesantren Buntet sejak tahun 1750-an). Tempat berlangsungnya pengajian itu adalah sebuah Panggung Bilik Bambu ilalang yang di dalamnya terdapat beberapa kamar tidur atau pondokan yang dindingnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari pohon ilalang (sejenis rumput yang tinggi).

Sistem kepemimpinan yang berlangsung di Pondok Pesantren Buntet, secara umum juga terjadi di beberapa Pesantren tradisional lainnya yaitu selalu dipimpin oleh kiyai keturunan dari kiyai pendiri Pesantren (mbah Muqayim atau K. Muta’ad). Namun dipelajari secara mendasar, sistem kepemimpinan di Pondok Pesantren Buntet memi-liki ciri khas tersendiri. Kekhasan ini terjadi, karena latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Buntet yang didirikan oleh seorang kiyai (mbah Muqayim) yang berasal dari keluarga Kesultanan Cirebon, sehingga dalam mengendalikan kepemimpinannya tampak seperti mengendalikan sebuah kerajaan yakni diutamakan kepada kiyai putra dari istri pertama. Ini dapat diperhatikan, antara lain dari sebutan “Buntet Pesantren” dan suasana daerah.

5. Darul Ulum, Banyuanyar, Pamekasan, Madura 1787.

Pondok Pesantren Banyuanyar bermula dari sebuah langgar (musholla) kecil yang didirikan oleh Kyai Itsbat bin Ishaq sekitar tahun + 1787 M/1204 H. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren di Pulau Madura dan Pulau Jawa.

Nama Banyuanyar diambil dari bahasa Jawa yang berarti air baru. Hal itu didasari penemuan sumber mata air (sumur) yang cukup besar oleh Kyai Itsbat. Sumber mata air itu tidak pernah surut sedikitpun, bahkan sampai sekarang air tersebut masih dapat difungsikan sebagai air minum santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Banyuanyar.

Santri Pondok Pesantren Banyuanyar kini berjumlah 4.323 orang, terdiri dari santri putra sebanyak 3.211 orang dan santri putri sebanyak 1.112 orang, yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Madura, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera serta dari negara sahabat.

Dr berbagai  sumber
PUBLISER : #AnandaShinta

Deretan Kisah Inspiratif Para Penghafal Alquran Cilik Indonesia

Deretan Kisah Inspiratif Para Penghafal Alquran Cilik Indonesia

 

Arrabbani.com// 2 juli 2019

Jakarta – Kecil-kecil sudah menjadi penghafal Alquran. Jika mendengar kalimat tersebut, apa yang timbul di pikiran kita?

Sebagian dari kita secara otomatis akan berdecak kagum dan ‘speechless’ dengan kehebatan para bocah penghafal Alquran ini. Nah, berikut telah dirangkum dari berbagai sumber oleh HaiBunda, deretan kisah para penghafal Alquran cilik Indonesia yang bisa menginspirasi kita semua.

1. Ahmad Hadi Ismatudzakwan asal Jambi

Aza, bocah penghafal Alquran dari Jambi/ Foto: Istimewa

Berasal dari Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Ahmad Hadi Ismatudzakwan, atau yang biasa dipanggil Aza adalah salah satu peserta lomba tahfiz Alquran, Hafiz Indonesia. Aza merupakan anak dari pasangan Budi Rahmanto (35) dan Alriana safitri (34).

Bocah yang kini berusia 10 tahun, tercatat sebagai salah satu siswa di SDN 04 Kuala Tungkal. Dikenal cerdas dan merupakan pernah menjadi ketua kelas di sekolahnya.

“Aza sangat berbeda pertumbuhannya dengan yang lain. Ia lebih aktif dalam pelajaran maupun pergaulan,” ujar Hj. Nurminah, Kepala Sekolah SDN 04.

Walaupun dinilai aktif dalam pergaulan, akan tetapi ketika sedang membaca Al-qur’an, Aza selalu tenang dan khusyu. Kemerduan suaranya dalam membaca Alquran mampu membuat siapa saja merinding dan meneteskan air mata. Syeikh Ali Jaber dari Madinah, salah satu Juri Hafiz Indonesia pun dibuat “merinding” ketika mendengar lantunan ayat suci Aza

“Aza sehari-hari bersekolah seperti biasa, namun apabila malam hari, ia mengikuti pesantren Maghrib sampai Isya. Saya juga tidak pernah berobat kerumah sakit ketika mengalami demam atau pusing ringan. Saya selalu meminta Aza untuk membacakan beberapa surat, dan saya merasa sembuh setelah mendengar lantunan suara Aza,” tutur Budi Rahmanto, ayah Aza.

2. Masyita Putri Nasyira asal Makassar

Masyita, bocah penghafal Alquran asal Makassar/ Foto: Istimewa

Namanya Masyita Pustri Nasyira, usia 9 tahun. Gadis cilik menderita penyakit low vision ini telah membahagiakan dan membanggakan kedua orangtuanya Nasruddin, (39) dan Irawati (39). Kedua orang tuanya berhasil ia berangkatkan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 2016. Ia berhasil mengangkat ekonomi keluarga dari menghafal Alquran.

“Kehadiran Masyita membawa pengaruh baik dalam kehidupan keluarga kami. Dia telah mengangkat derajat kami melalui Alquran. Karenanya, saya dan bapaknya bisa ke tanah suci. Jika berharap dari gaji bapak yang masih seorang honorer di salah satu instansi, mungkin kami tak bisa ke Tanah Suci,” kata sang ibu, Irawati.

Selain memberangkatkan kedua orang tuanya ke tanah suci, si kecil Masyita juga membantu merenovasi rumahnya yang sangat sederhana. Irawati menceritakan awal mula putrinya bisa seperti sekarang ini. Beberapa waktu lalu ada seorang ibu pengunjung mal merekam Masyita yang membaca Alquran di mal. Kemudian mengunggahnya ke Facebook dan menjadi viral.

Memang, sejak Masyita menginjak usia 3 tahun, Irawati sering memperdengarkan bacaan Alquran ke Masyitah dari ponsel, radio kecil maupun televisi. Ternyata hal itu semua tersimpan dengan baik di memori Masyita sehingga mampu menghafalkan juz 29 dan juz 30.

Ibu dari semifinalis Hafiz Indonesia mengaku, agar hapalan Masyita tetap bertahan dan bertambah, Masyita harus menyetor hapalan ke dirinya atau ke bapaknya usai magrhib. Satu halaman setiap hari.

“Memang anak saya kurang normal tapi sepertinya dia yang paling percaya diri karena pada dasarnya Masyita itu anaknya selalu ceria,” tutup Irawati.

3. Fajar Abdulrokhim Wahyudiono asal Bandung

Fajar, bocah penyandang disabilitas dan penghafal Alquran dari Bandung/ Foto: Istimewa

Fajar Abdulrokhim Wahyudiono asal Bandung ini telah menjadi Hafiz Alquran sejak berusia 4,5 tahun. Hebatnya lagi, Fajar ternyata adalah penderita cerebral palsy (lumpuh otak).

Fajar terlahir dalam kondisi prematur dengan berat 1,6 kg dan penyakitnya baru diketahui setelah usianya 1 tahun. Nggak mundur sampai situ, orang tua dari Fajar memberi terapi dengan memperdengarkan murattal Alquran selama 24 jam setiap harinya.

Atas kuasa Tuhan, di usia 4,5 tahun, ternyata Fajar telah menghafal Alquranberkat murattal yang diperdengarkan setiap hari. Kini Fajar yang sudah berusia 14 tahun, sedang menghafal hadits dan ia juga bisa berbahasa Arab, lho. Kisah Fajar ditulis dalam buku yang berjudul ‘Fajar Sang Hafizh, Anak Lumpuh Otak Hafal Al-Qur’an’.

Terbitnya buku yang memuat kisah Fajar ini diharapkan mampu menjadi api semangat bagi setiap orang tua yang memiliki anak bernasib sama. Kehadiran buku ini juga sekaligus menjadi penyemangat bagi anak-anak normal seusianya, bahkan untuk semua kalangan.

Copas “Asri Ediyati Rabu, 10 Jan 2018 09:00 WIB”

Publiser: #anandaShinta

Ini Metode Cepat Menghafal  Qur’an 10 Menit Perhalaman

Ini Metode Cepat Menghafal  Qur’an 10 Menit Perhalaman

Arrabbani.com // 21 juni 2019

 

Ahmad Jaaze, M.Thi (Ist)

BANDA ACEH-LintasGAYO.co : Selain berbagi tips menghafal Qur’an Ahmad Jaazee juga berbagi metode cepat menghafal Qur’an 10 menit perhalaman pada Kamis, 8 Juni 2017 di Aula Pemkot Banda Aceh.

“Metodeini terinspirasi dari Syekh Thoha Al-Misri sekitar tahun 2013 ketika saya menjadi penerjemahnya. Kemudian metode ini saya kembangkan menjadi menghafal mudah 10 menit perhalaman,” kata Founder Ibda Arabic Academi ini.

Telah banyak tertimoni yang disampaikan langsung kepada Ahmad Jaaze setelah dilakukan seminar  10 menit perhalaman ini. Penasaran dengan metode menghafal Qur’an 10 menit perhalaman? Berikut penulis uraikan metode yang dikembangkan oleh pemilik Sanad Qiro’ah Sab’ah Syekh Musa Jibou ini.

Persiapan Psikologis

Kita seringkali di dokrin oleh diri sendiri bahwa menghafal Qur’an itu susah. Pada tahap ini kita akan menghapus doktrin negatif tersebut dan menggantinya dengan doktrin positif  saya bisa menghafal Qur’an. Tidak ada yang mampu membatasi diri kita, kecuali apa yang kita batasi dengan fikiran kita. Maka optimislah

Membayangkan atau Mengimajinasikan

Jika Anda banyak melakukan seni membayangkan ini, dan hidup dengannya disetiap keadaan, maka pada saat itu otak anda akan bekerja dengan sangat peka dan aktif, dan akan memberi pengaruh positif bagi tubuh, ruh dan otak sehingga apa yang anda bayangkan akan menjadi kenyataan dikemudian hari.

Lakukan Pemanasan

Ketika sudah siap untuk menghafal, baiknya tidak langsung menghafal lakukan pemanasan otak terlebih dahulu  dengan membaca ayat Al-Qur’an yang sudah dihafal tanpa memegang mushaf selama lima sampai enam menit.

Fokus

Fokus dimulai dengan cara memegang mushaf. Letakkan Qur’an tepat didepan wajah dengan jarak yang memudahkan anda untuk melihat, letakkan agak ke kiri atau ke kanan untuk membantu fokus anda. Pastikan juga mata dan fikiran tertuju pada ayat yang akan dihafal. Hadirkan pula perasaan anda ketika sedang menghafal. Bacalah dan ulangi ayat tersebut didalam khayalan dan imajinasi anda karena sesungguhnya yang membaca itu adalah otak (pikiran) bukan mata atau penglihatan. Sebagamai mana firma Allah  “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tapi yang buta adalah hati yang di dalam dada,” Qur’an surat Al-Hajj ayat 45 . Maka dengan cara itu anda tidak perlu waktu lama untuk bisa menghafal.

Mengatur Pernafasan

Tarik nafas melalui hidung tahan di perut selama 8 detik, perhitungan delapan detik sebaiknya dilakukan dengan berdzikir dalam hati kemudian hembuskan melalui mulut lakukan sebanyak tiga kali atau lebih. Ketika akan menghafal tarik nafas dan keluarkan bersama dengan ayat yang akan dihafal

Berirama atau Bernada 

Otak dan jiwa akan lebih menyukai hal-hal yang berirama indah dibandingkan dengan suara yang datar. Maka menghafallah dengan nada dan irama khas yang anda miliki

Lakukan Pengulangan

Lakukanlah pengulangan ayat dalam alam khayalan dan imajinasi anda setelah melihat mushaf ketika membaca diawal.

Korelasi atau Menghubungkan

Korelasi berlaku untuk menghubungkan ayat satu dengan ayat selanjutnya, halaman satu dengan halaman berikutnya, antara surat dengan surat serta juz satu dengan juz lainnya. Lakukan dengan cara yang memudahkan anda untuk mengingat.

Setelah melakukan langkah-langkah diatas, maka bertakal dan berserah dirilah kepada Allah. Semoga Allah mudahkan kita untuk menghafal Qur’an. [Zuhra Ruhmi]

Copas “lintasgayo”

PUBLISER = #AnandaShinta